Rabu, 28 April 2010

Kisah dari Bagian Tenggara Sulawesi (Wakatobi)

Perjalanan saya kali ini menuju daerah provinsi Sulawesi Tenggara. Dimulai dengan pesawat yang membawa kami dari jakarta menuju Makassar yang ditempuh selama kurang lebih 2 jam.
Di Makassar saya singgah dulu di Trans Studio sebuah theme park indoor terbesar di dunia saat ini yang berlokasi di jalur utama Jalan Metro Tanjung Bunga, Makassar, sekitar 2 km barat daya atau 3 menit dari kawasan Pantai Losari. Karena kebetulan saya datang bukan pada hari libur jadi tidak terlalu ramai. Hampir semua wahana saya masuki diantaranya teater 4 dimensi, dunia lain, magic thunder coaster, angin beliung, ayun ombak, dll tanpa ngantri dengan tarif masuk 100 ribu per orang bisa main sepuasnya kecuali kalau pada hari libur ada tambahan bila masuk ke wahana-wahana tertentu.

Perjalanan kemudian dilanjutkan menggunakan pesawat ATR-72 500 milik maskapai penerbangan Wing Air selama kurang lebih 50 menit menuju Bandara Betoambari Bau-Bau.
Setibanya di Bau-bau kami langsung menuju hotel yang ada di pusat kota tidak jauh dari sebuah pantai bernama Pantai Kamali. Dari Bandara menuju hotel bisa ditempuh menggunakan taxi (sejenis Avanza/Xenia) dengan tarif 30 ribu per orang atau ojek 7 ribu. Sayang meskipun hotel yang kami singgahi ini masuk ke deretan hotel yang ada di general map kota Bau-Bau, namun sangat minim fasilitas. Meski kamar yang saya pilih ber-AC tapi kamar mandinya kotor, tempat tidurnya tidak nyaman, dan TV-nya tidak berfungsi padahal tarifnya lumayan sebesar 110 ribu per malam. Sebenarnya bisa saja saya komplain, tapi judesnya pelayan membuat saya malas jadi memilih untuk diam dan mencari hotel pengganti keesokan harinya. Namun apa hendak dikata ternyata hotel kedua-pun meski harganya lebih mahal (150 ribu per malam) tetapi fasilitasnya cuma lebih baik sedikit.

Sore hari kami habiskan waktu melihat sunset di pantai Kamali dan makan malam di rumah makan yang berjejer di sepanjang pantai tersebut. Sebuah patung naga sebagai maskot kota bau-bau berdiri megah di pantai tersebut.
Malam hari bisa melihat keindahan pantai tersebut dan kesibukan pelabuhan penyebrangan Murhum yang tidak jauh dari situ. Berburu jajanan atau sekedar menikmati malam karena pantai sangat ramai dengan pengunjung setiap malamnya. Pagi-pagi juga selain melihat matahari terbit, anda bisa menikmati jogging di area pantai yang sudah disediakan dan sedikit pijat refleksi karena area jogging dipasangi batu-batu kecil dengan melepaskan alas kaki.


Di Buton ini banyak obyek wisata yang bisa dikunjungi, kebetulan kami menemukan pemandu wisata dadakan "tukang ojek" yang kami carter 50 ribu berkeliling sepuasnya hari itu. Tempat yang saya kunjungi adalah air terjun Tirta Rimba, Pemandian Kabura-burana, kantor walikota, Kolema Hill, Pantai Nirwana.

Pantai Nirwana sendiri memiliki pasir yang putih dan di sini saya bertemu dengan turis-turis dari Australia yang sedang snorkeling dan diving. Jika ingin diving bisa menghubungi Wasage diver.
Pemandian Kabura-burana juga berada di area hutan Jambu Mede/Mente, air sungainya berundak-undak dan udaranya cukup sejuk. Dari Kolema Hill bisa melihat laut dari atas bukit dan tak jauh dari situ juga bisa ditemukan air terjun Tirta Rimba. Sayang ketika saya kesana air terjun itu sedang kering katanya karena musim kemarau padahal hutan di sekitarnya cukup lebat.

Objek wisata berikutnya adalah objek wisata sejarah yaitu Keraton Buton, Benteng Keraton yang merupakan "the widest fortress in the world" -benteng terluas di dunia-.
Di area keraton bisa ditemukan Mesjid Keraton, Tiang bendera (Kasulaana tombi) yang didirikan akhir abad ke-17, makam Sultan Murhum, batu Popaua (tempat pelantikan), batu Wolio (petirtaan) yang berasal dari abad ke-14 yang berfungsi sebagai tempat pengambilan air suci untuk dimandikan kepada calon sultan sebelum dilantik, Gua Arupalaka yang merupakan tempat persembunyian La Toondu (arupalaka) seorang raja Bone, mata kucing. Oh ya, bangunan yang ada di keraton ini terbuat dari kayu dan masih kelihatan utuh begitu pula meriam besi yang masih berjejer di sepanjang benteng.

Perjalanan berikutnya dilanjutkan menuju Wakatobi island yang terbentuk dari singkatan nama-nama pulau WAngi-wangi (Wanci), KAledupa, TOmia, dan BInongko. Kali ini tujuan saya adalah Pulau Tomia yang merupakan pulau dengan dive site terbanyak yakni lebih dari 99 site yang telah teridentifikasi. Wakatobi mulai terkenal dalam industri pariwisata internasional karena memiliki keindahan bawah laut karena merupakan pusat dari jantung segitiga karang dunia. Dapat ditempuh dengan pesawat maupun kapal laut, untuk rute kali ini saya naik kapal kecil "Wisata Indah" dari Bau-bau langsung Tomia dengan waktu tempuh 12 jam perjalanan malam hari. Suasana di kapal gaduh sama yang ngobrol dan musik dangdut serta lagu India yang bergantian diputar menggunakan VCD player. Di sebelah kiri adalah foto perkampungan suku Bajo yakni sebuah perkampungan terapung yang dikenal sebagai pelaut ulung.




Setibanya di P Tomia, saya dijemput staf Tomia Dive Center untuk diantar ke tempat penginapan. Penginapan yang dimaksudkan di sini lebih bersih dan nyaman dibanding yang saya temui di Bau-Bau, tarifnya juga lumayan terjangkau 100 ribu per malam untuk kamar ber-AC. Istirahat sebentar kemudian makan di rumah makan setempat, harga makanannyapun standar. Rumah-rumah di sini juga tertata dengan rapi dan bersih, tapi di sini listrik terbatas cuma dari jam 18.00 sampai jam 6.00 pagi. Jadi harus persiapan charge HP sama kamera kalau malam hari. Oh ya... sekedar info saja bahwa untuk komunikasi saat ini baru Indosat yang ada signalnya di daerah ini dan di daerah ini belum ada ATM (menurut informasi dalam waktu dekat akan segera dibangun). ATM terdekat ada di P Wanci jadi harus persiapan uang cash karena untuk transaksi belum bisa menggunakan kredit card atau debit.

Nah.... ini dia acara puncaknya yaitu menyelam di P Tomia. Masih kurasakan asinnya air laut waktu belajar snorkeling, sehingga saya tidak berani menyelam terlalu dalam. Terumbu karang di sini asli cantik, ikan-ikan kecil yang kutemui juga bagus-bagus. Saya sempat mencoba diving di spot Mari mabuk dan Tanjung barat Tomia. Masih banyak diving spot yang lain tapi apa daya karena keterbatasan waktu, tak terasa saya menyelam sampai 4 jam.

Keesokan harinya kami di antar ke pelabuhan speed boat Usuku untuk menyebrang ke Pulau Wanci. Perjalanan ditempuh dalam waktu kurang lebih 2,5 jam dan dilanjutkan dengan naik ojek sekitar setengah jam menuju bandara Matahora. Oh yah tarif ojeknya cukup mahal berkisar 25 - 50 ribu per orang karena jalannya yang sepi dan jauh. Bandara itu sendiri berada di tengah hutan dengan landasan pendek sehingga hanya bisa digunakan untuk pesawat berbadan kecil dengan kapasitas penumpang kira-kira 30 orang. Saat itu saya menumpang di pesawat Express Air menuju Bau-bau, pesawat ini ada setiap hari. Dari Bau-Bau kami lanjutkan ke Makassar dan untuk selanjutnya kembali ke Jakarta.

Semoga jurnal perjalanan ini bisa bermanfaat dan memberikan inspirasi bagi semua pihak untuk mengembangkan pariwisata Indonesia khususnya di Indonesia bagian Timur. Met jalan-jalan....!

2 komentar:

  1. Ceritanya singkat sekali....

    Tapi cukup memberi gambaran dengan bantuan foto2nya... walaupun masih kurang banyak juga... :D

    Tempatnya masih sangat asri.... Eksotik pula, terutama pantainya... bersih...

    Mungkin bisa dibantu dengan tips-tips dan detail untuk pilihan transportasi yang lebih efektif dan cepat....

    Keep writing sis... :)
    Ditunggu sharing next trip-nya....

    BalasHapus
  2. Iya agak kesulitan ketika memilih foto untuk diupload karena beberapa foto bagus ada gambar orangnya, pengennya sih yang pemandangan saja.
    Kalau untuk pilihan transportasi diserahkan pada pembaca saja karena harus disesuaikan dengan isi kantong dan waktu yang tersedia, pembaca bisa langsung search di internet atau booking jauh-jauh hari untuk pesawat kalau mau murah.
    Pokoknya kalau wakatobi.... recommended lah

    BalasHapus